Tampilkan postingan dengan label Kampus dan Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus dan Organisasi. Tampilkan semua postingan

MENGURAI BENANG KUSUT KADERISASI


(sebuah catatan renungan arah modul kaderisasi.....)


Sebuah Renungan
Perjalanan roda organisasi PC PMII Jepara telah berjalan hampir dalam titik akhir periodesasinya  sejak dikukuhkan lewat pelantikan sebagai kader struktural yang mempunyai serta mengemban banyak tanggungjawab dan persoalan internal kaderisasi maupun eksternal pengawalan kebijakan pemerintaah daerah, nasional, begitu juga perkembangan politik Internasional.  Pelantikan yang dipahami kebanyakan orang  sebagai ritual ceremonial  telah saya maknai berbeda, yakni sebagai awal penyulutan api perjuangan untuk mengabdikan diri, tenaga, pikiran, intelektual sebagai modal mendasar untuk menyusun langkah-langkah strategis dalam rangka ihtiyar berjamaah untuk  ‘mengurai benang kusut kaderisasi’  yang pada orientasinya dapat digunakan secara merata sebagai acuan untuk meneruskan tradisi intelektual dan pergerakan kader PMII agar tidak lagi merasa buntu pikir dalam menyusun, merencanakan dan mengagendakan kegiatan-kegiatan progresif.

PMII 'anti' KRITIK??


Terdapat fenomena yang sangat mengagetkan sekaligus memprihatinkan jika kita melihat terjadinya aksi demonstransi yang dilakukan oleh aktivis PMII dari Rembang, Pati, Kudus, Demak, dan Jepara yg tergabung dalam aliansi PMII Pantura Raya. Dengan semangat berapi-api yang penuh dengan gugatan dan tuntutan yang ditujukan pada Bupati Rembang, Much. Salim dengan menggelar aksi blokade jalan pantura di depan gedung Pemkab Rembang pada hari Senin, 3 Mei 2013 lalu.

KULTUR INTELEKTUAL HARGA MATI BAGI MAHASISWA


Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak ragam dan kaya akan kebudayaan, bahkan dapat dikatakan Negara yang paling kaya akan kebudayaannya. Namun semua itu dapat tercover dalam pancasila dan bhineka tunggal ika meskipun hanya sebatas ideology. Terlepas dari semua kebudayaan yang mewarnai Indonesia, ada satu budaya yang belum dimiliki oleh bangsa ini yang sebenarnya sangat urgen dalam kelangsungan kedaultan sebuah negara, yaitu budaya intelektual (membaca, menulis sampai pada diskusi). Ironis memeng, sebuah Negara yang mempunyai kekayaan kebudayaan dan SDA yang berlimpah tidak dibarengi dengan pengembangan potensi SDM dengan  maksimal.

JAWABAN ATAS REALITAS “kegalauan” MAHASISWA KPI JEPARA


Terdapat fenomena yang unik sekaligus menarik untuk segera diperdebatkan ketika menakar kualitas masing-masing program studi PT. Ada yang secara vulgar menuduh prodi tertentu paling baik dengan segala keunggulannya, sementara prodi yang lain menjadi prodi yang disorientasi dan tak layak jual tentu dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Asumsi atuapun pendapat memang bersifat subjektif, namun ketika suatu asumsi itu tidak memiliki landasan dasar yang ilmiah maka dapat dikatakan ngawur. Seperti halnya ketika kita membincang mengenai kualitas fakultas dakwah. Tidak sedikit masyarakat  menganggap bahwa mahasiswa fakultas dakwah tidak jelas arah kompetensinya, banyak pula mahasiswa diluar fakultas dakwah yang menjastis bahwa lulusan fakultas dakwah tidak layak jual (marketable) yang pada intinya asumsi-asumsi tersebut secara tidaklangsung memarjinalkan dan memandang sebelah mata fakultas dakwah. Semua anggapan itu tidak ada salahnya memang, namun juga tidak sepenuhnya benar dan dibenarkan karena dalam menilai sesuatu harus memandang keadaan objek kajian secara objektif terlebih dahulu.

PENDIDIKAN BERBASIS EMANSIPATORIS DAN PARTISIPATORIS (PUBLIKASI KARYA ILMIAH)


Menyikapi sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah,  sudah barang tentu  mencuat berbagai pendapat dan sikap, baik yang berpendapat setuju maupun tidak setuju dengan beragam alasan dan dasar masing-masing karena pendapat bersifat subjektif. Begitu juga ketika menyikapi  surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pada tanggal 27 Januari 2012 lalu.
Dalam surat edaran tersebut dijelaskan beberapa ketentuan dan  syarat kelulusan bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 yaitu  publikasi karya ilmiah dengan ketentuan; Sarjana (jurnal ilmiah), Magister (jurnal ilmiah nasional), dan Doktor (jurnal ilmiah internasional). Dalam hal ini tentunya sudah jelas apa maksud dari Ditjen Dikti, yaitu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang selama ini terbilang terbelakang dibandingkan Negara tetangga indonesaia, contoh saja Malaysia dalam konteks produksi karya ilmiah maupun proses pendidikan secara universal.

AKTIVIS DAN AKADEMIKUS PUNYA TANGGUNGJAWAB SAMA

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka,2002), pengertian aktivis adalah individu atau sekelompok orang (terutama anggota politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Sedangkan akademikus adalah orang yang berpendidikan perguruan tinggi/anggota akademi. Artinya, dari defenisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa aktivis dengan akademikus merupakan satu kesatuan untuk mengemban amanat dalam mensukseskan pendidikan nasional yang sampai hari ini masih membutuhkan perhatian serius.
Meskipun saat kita mendengar kata aktivis, persepsi yang pertama muncul dalam benak terkadang memahami bahwa aktivis adalah sosok orang yang kritis, idealis, lama lulus, jarang kuliah dan kerjaannya demo dan ngomongin politik. Bertolak 1800 ketika dihadapkan dengan akademikus yang sering dipahami sebagai seseorang yang hanya mementingkan study oriented yaitu orang-orang yang mementingkan kuliah dan kurang berminat bergabung dengan organisasi. Dan bersifat hedonis yang dikenal sebagai anak-anak yang mementingkan kenikmatan dan kesenangan.

MELURUSKAN PARADIGMA MASYARAKAT TERHADAP FAKULTAS DAKWAH (KPI)


Sekapur Sirih Realitas Dakwah
Alfin Toffler penulis buku ”the third wave” secara ringkas membagi fase kehidupan ini yang benar-benar berbeda dengan pemetaan yang lazimnya dilakukan para sejarawan. Menurut Toffler paling tidak pada tiga tahapan gelombang yang telah dilalui dalam kehidupan ini, yaitu gelombang pertama bersifat agrikultural; gelombang kedua bersifat industrial; dan gelombang ketiga bersifat teknologikal. Apa yang disebut Toffler dengan gelombang ketiga ini benar-benar semakin nyata dalam kehidupan kita sebab kehidupan kontemporer benar-benar telah memasuki “zona mabuk teknologi” meminjam istilah John Nasibitt. Artinya, hampir dapat dipastikan tidak ada lagi sisi kehidupan ini yang tidak sepenuhnya tergantung pada kekuatan teknologi sebagai media teknisnya.
Kenyataan yang demikian tentu saja telah memaksa kita umat Islam untuk berpikir ulang tentang masa depan kehidupan kita, terutama yang berkaitan langsung dengan aspek dakwah yang merupakan ”denyut nadi” dari Islam itu sendiri. Apakah konsep dakwah kita selama ini mampu melawan atau paling tidak mengimbangi kemajuan tersebut, atau malah disebabkan ketidak mampuan kitalah untuk menyeimbangkan kemajuan ini yang menyebabkan dakwah kita hampir dapat disebut tidak memberi makna sama sekali bagi kehidupan. Jika demikian, tentu saja ada yang bermasalah dalam teknis dakwah kita, apakah para da’i-da’i kita alpa untuk melaksanakan tugasnya?