Tampilkan postingan dengan label wacana agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana agama. Tampilkan semua postingan

REVITALISASI ISLAM; TINJAUAN FIRKOH, ISLAM KULTURAL & STRUKTURAL


Toleransi umat beragama, amar ma’ruf nahi mungkar dan ajaran-ajaran kebaikan yang dibawa setiap agama terlebih agama Islam merupakan suatu konsep ajaran yang sangat penting  sebagai alat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. kewajiban sebagai seorang muslim yang berpikir dan bertanggungjawab  dalam urusan keagamaan dan sosial adalah berupaya untuk mengamalkannya. Dari proses pengamalan tersebutlah maka muncul beragam sekte, golongan, madzhab sebagai respon atas perbedaan menginterpretasikan ajaran yang dibawa oleh sebuah agama tertentu, tidak terkecuali adalah Islam. Dalam faktanya justru agama Islam lah yang kemudian tampil sebagai agama yang paling banyak menelurkan madzhab, baik yang mengusung ideologi liberalis, modernis, literalis sampai pada radikalis.

MENGGALI DASAR HUKUM HAJI DAN UMROH


Suatu Pengantar
Ibnu Umar (Radhi allahu anhum) berkata: "Rasulullah (sallallahu alaihi wa-sallam) berkata:" Islam dibangun di atas lima (pilar): bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad (sallallahu alaihi wa-sallam ) adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadhan. "[Shahih Al-Bukharee dan Shahih Muslim]. Menurut sebagian besar ulama Haji diundangkan pada tahun kesembilan Hijrah (Nabi migrasi dari Mekah ke Madinah), yang berarti tahun Delegasi (al-Wufood), di mana ayat Surah Imran (3): 97: "Haji ke Baitullah merupakan kewajiban bahwa umat manusia berutang kepada Allah untuk mereka yang mampu membayar perjalanan" diturunkan.

PSIKOLOGI DAKWAH (Tinjauan Persepsi)


Mengingat bermacam – macam tipe manusia (mad’u) yang dihadapi da’i dan berbagai jenis antara dia dan mereka serta berbagai kondisi psikologis mereka, setiap da’I yang mengharapkan sejuk dalam aktivitas dakwahnya harus memperhatikan kondisi psikologis dari mad’u.
Kalau kita perhatikan perbedaan  gaya dakwah nabi sebelum dan sesudah hijrah, sewaktu di makkah atau pun di madinah tampaknya salah satunya disebabkan oleh berbedanya keaaan psikologis kelompok – kelompok yang didakwahi.
Muhammad Natsir dalam bukunya “Fiqh Dakwah” mengemukakan pendapat yang berkaitan dengan kondisi psikologis mad’u ini, bahwa: pokok persoalan bagi pembawa dakwah ialah bagaimana menentukan cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan tertentu dalam suatu keadaan dan nuansa tertentu.

PEMBEHARUAN ISLAM (Suatu Analisis Kritis Pemikiran Muhammad Abduh)

Pemikiran pembaharuan di  dunia islam umumnya berpangkal pada asumsi bahwa islam sebagai realitas social pada lingkungan tertentu tersebut sudah tidak relevan lagi dengan dinamika maupun tuntunan zaman. Pola pembaharuan itu mengambil bentuk yang berbeda antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Karena corak  epistemology  yang beragam maka melahirkan aneka model pembaruan yang biasanya ditipologikan dengan reformisme, modernisme, puritanisme, fundamentalisme, sekuralisme dan neo- modernism.
Perkembangan modernism dalam dunia islam menemukan momentum nya pada abad ke 19 meskipun dasar – dasarnya sudah muncul beberapa abad sebelumnya. Momentum  yang dimaksud adalah adanya gerakan politik dan intelektual yang mulai menjamah keberbagai kawasan negeri-negeri islam. Tema gerakan – gerakan itu umunya berkisar pada dua hal, protes melawan kemerosotan internal dan serangan eksternal. Kebangkitan itu bukan berarti bahwa islam dalam kondisi pasif untuk menghadapi perubahan demi perubahan yang terjadi. Pada kenyataannya suatu peradaban tidak lain adalah hasil akumulasi perjalanan pergumulan pemeluk agama yang berdimensi historis dengan ajaran wahyu yang bernilai normative.

MEMAKNAI ULANG TOLERANSI BERAGAMA

Belakangan ini, agama adalah sebuah nama yang terkesan membuat gentar, menakutkan, dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dengan wajah kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhir banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Pandangan dunia keagamaan yang cenderung anakronostik memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan saling klaim kebenaran sehingga menimbulkan berbagai macam konflik. Fenomena yang juga terjadi saat ini adalah muncul dan berkembangnya tingkat kekerasan yang membawa-bawa nama agama (mengatasnamakan agama) sehingga realitas kehidupan beragama yang muncul adalah saling curiga mencurigai, saling tidak percaya, dan hidup dalam ketidak harmonisan.
Tidak lepas dari fakta diatas, kita juga kerap kali melihat konflik ditengah – tengah masyarakat yang menimbulkan korban kemanusiaan yang begitu besar. Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus-kasus kerusuhan antar etnis dan terlebih agama yang seolah semakin hari semakin tidak jelas solusi yang ditawarkan. Hal serupa dapat juga kita lihat pada level Internasional, seperti kasus pengeboman WTC, 11 Nopember 2001, yang telah menelan korban begitu besar.[1]